Tugas 10
Pelaksaan Communication Summit
berakhir pada tanggal 26 April 2018. Dan pada berakhirnya acara Communication Summit
Universitas Bunda Mulia dilaksakanlah penutupan dengan konsep seminar. Seminar ini
berskala nasional.
Seminar ini bertema “The Greatest
Indonesian Showmovie”. Dilaksanakan di The Ubm Grand Auditorium, seminar ini
dihadiri oleh para petinggi dan mahasiwa/i Universitas Bunda Mulia serta
masyarakat umum yang memang diperbolehkan untuk hadir.
Bintang tamu yang mengisi seminar
ini adalah Brandon Salim dan Ginanti Rona. Dua pelaku orang ini merupakan seorang
aktor dan sutradara yang memang sangat berpengalaman di dunia perfilman
Indonesia.
Pembuka acara dimulai oleh
hiburan dance modern dan stand up comedy yang dilakukan oleh mahasiswa/i
Universitas Bunda Mulia. Lalu dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Bapak
Sugeng selaku Dekan FISH dan Kaprodi Ilmu Komunikasi dan Bapak Yuri selaku
Ketua Panitia Commit 2018. Seminar ini dipandu
oleh dua moderator yaitu Fanty Pratiwi Meita dan Nico Setiawan Susilo selaku
dosen dari ilmu komunikasi.
Seminar ini berjalan dengan
sangat khidmat. Banyak pesan yang disampaikan oleh Brandon dan Ginanti berkaitan
dengan perfilman yang ada di Indonesia. Dan bukan hanya itu saja mereka juga
bebricara mengenai bagaimana bisa mereka menjadi orang yang seperti sekarang
ini. Brandon salim sebagai aktor muda banyak menarik perhatian kalangan
mahasiswa/i. Begitu juga dengan Ginanti Rona.
Kedua orang ini memberikan
jawaban yang sangat luar biasa yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh moderator maupun audiens. Mereka bebicara mengenai bagaimana
sulitnya pembuatan film di Indonesia yang memang terkendala oleh berbagai macam
hal salah satunya seperti anggaran untuk pembuatan film yang seadanya.
Namun hal itu tidak menutup
kemungkinan bagi Brandon maupun Ginanti untuk selalu berkarya bagi dunia
perfilman di Indonesia. Hal ini
dibuktikan dengan bagaimana mereka bekerja pada saat membuat film.
Brandon salim pada saat
pengambilan film terbarunya yaitu Dilan dimana ia berperan sebagai Beni membuat
ia tidak menggunakan handphonenya selama satu sampai dua minggu saat syuting
hanya untuk mendalami cerita yang memang berlatar di tahun 90-an. Menurutnya saat
berakting harus ada upaya yang dilakukan agar aktor/aktris terlihat jujur dan
natural dalam menjalankan perannya.
Begitu juga dengan Ginanti Rona,
sebagai sutradara menurutnya membuat film itu harus memiliki tujuan yang jelas
sehingga dalam pembuatan filmnya pun akan ada hasil film yang baik sehingga
dapat disukai banyak orang maka dari itu menurut Ginanti perlu adanya riset
yang dilakukan sebelum membuat film. Dan bukan hanya itu saja menurutnya harus
ada ide-ide kreatif dalam pembuatan film seperti dalam penulisan skenario,
pemilihan artis dan hal teknis lainnya.
Namun sebagai pelaku perfilman
Indonesia menurut mereka dukungan terhadap film-film Indonesia masih minim. Hal
ini dapat dilihat dari jumlah bioskop yang sangat sedikit yang ada di negeri
ini, menurut mereka kurangnya bioskop membuat film Indonesia mendapatkan jadwal
tayang yang cukup sulit bahkan harus ada yang menunggu sampai bertahun-tahun. Tetapi
mereka mengakui bahwa saat ini dunia perfilman sangat berkembang di Indonesia,
maka dari itu mereka meminta agar kita selalu mencintai film-film produk negeri
sendiri.

Komentar
Posting Komentar